Terisolasi dari Terang : Pemerintah Dinilai Abai pada Warga Sungai Sirang.
RAKYATKALTIM.WEB.ID, Tanah Paser, – Warga Dusun Sungai Sirang, Desa Sebakung, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Tanah Paser, kembali menyuarakan harapan agar pemerintah segera merealisasikan pemasangan listrik PLN di wilayah mereka. Hingga saat ini, dusun yang terdiri dari RT 05 dan RT 06 tersebut belum menikmati aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), meski wilayah itu menjadi pusat pelayanan masyarakat Desa Sebakung.
Dusun Sungai Sirang memiliki peran penting karena menjadi sentra aktivitas masyarakat dari 10 RT yang ada di Desa Sebakung. Sejumlah fasilitas umum berdiri di wilayah ini, mulai dari Puskesdes, Sekolah Dasar Negeri (SDN), masjid, hingga balai pertemuan. Namun, seluruh fasilitas tersebut masih bergantung pada penerangan seadanya karena belum tersambung listrik PLN.
Kondisi tersebut dinilai menghambat berbagai kegiatan pelayanan publik, terutama pada malam hari. Aktivitas di Puskesdes, kegiatan belajar mengajar tambahan di sekolah, hingga kegiatan kemasyarakatan di balai pertemuan tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan listrik yang memadai.
Ketua RT 05 Sungai Sirang, Rahmansyah, mengatakan ketiadaan listrik sudah lama menjadi keluhan utama warga. Menurutnya, masyarakat merasa tertinggal dibandingkan wilayah lain yang sudah lebih dulu menikmati akses listrik dan fasilitas pendukung lainnya.
“Selama ini warga sangat berharap ada pemasangan listrik PLN. Tanpa listrik, kami kesulitan mengakses informasi karena tidak bisa menggunakan internet secara maksimal,” ujarnya, Kamis (19/2/26)
Ia menjelaskan, keterbatasan listrik berdampak langsung pada akses teknologi dan komunikasi. Di era digital saat ini, kebutuhan internet menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pendidikan anak-anak, urusan administrasi, maupun perkembangan usaha kecil masyarakat. Tanpa listrik, warga tidak dapat memanfaatkan perangkat elektronik secara optimal.
Selain itu, kebutuhan rumah tangga juga menjadi kendala tersendiri. Banyak warga yang ingin menggunakan peralatan elektronik seperti kulkas untuk menyimpan bahan makanan, televisi sebagai sumber informasi dan hiburan, serta mesin cuci untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, keinginan tersebut belum dapat terwujud karena keterbatasan daya listrik.
Untuk memenuhi kebutuhan penerangan, sebagian warga terpaksa menggunakan genset. Namun solusi tersebut dinilai tidak efektif dan justru membebani ekonomi masyarakat. Biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan cukup besar, yakni sekitar Rp15.000 per liter. Dengan jumlah tersebut, genset hanya dapat digunakan kurang lebih selama satu jam.
“Bayangkan saja, satu liter bahan bakar hanya untuk satu jam. Sementara kebutuhan lain juga harus dipenuhi. Ini tentu sangat berat bagi warga,” kata Rahmansyah.
Ia menambahkan, penggunaan genset juga tidak bisa dilakukan terus-menerus karena keterbatasan biaya. Akibatnya, sebagian warga memilih membatasi penggunaan listrik hanya pada waktu-waktu tertentu saja, seperti saat benar-benar dibutuhkan.
Kondisi ini juga berdampak pada kegiatan ibadah di masjid, terutama saat bulan Ramadan. Penerangan yang terbatas membuat aktivitas salat tarawih dan tadarus Al-Qur’an kurang maksimal. Warga berharap dengan adanya listrik PLN, kegiatan keagamaan dapat berjalan lebih khusyuk dan nyaman.
Rahmansyah mewakili warga Desa Sebakung berharap pemerintah daerah, khususnya Bupati dan DPRD Kabupaten Paser, dapat mendengar dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Ia menilai Dusun Sungai Sirang layak menjadi prioritas karena merupakan pusat pelayanan masyarakat desa.
Warga berharap pembangunan infrastruktur listrik dapat segera direalisasikan agar mereka tidak lagi merasa terisolasi dari program pembangunan pemerintah. Dengan adanya listrik, masyarakat optimistis kualitas hidup, pendidikan, serta perekonomian desa akan meningkat secara signifikan.(ys)