Jembatan Desa Sebakung di Longkali Nyaris Putus, Warga Frustrasi dengan Janji Pemerintah yang Tak Terealisasi
RAKYATKALTIM.WEB.ID, Longkali, Paser, – Kekhawatiran warga Desa Sebakung, Kecamatan Longkali, Kabupaten Paser, terhadap kondisi jembatan yang nyaris ambruk kini menjadi kenyataan. Pada Minggu (17/5/2026), hujan deras yang menyebabkan luapan sungai menghantam jembatan tersebut. Dampaknya, separuh badan jembatan rusak parah dan akses warga menjadi terganggu.
Warga setempat menyebut jembatan itu merupakan akses vital yang menghubungkan beberapa desa di Kecamatan Longkali. Kerusakan jembatan telah berlangsung bertahun-tahun, namun perbaikan signifikan tak kunjung dilakukan. Hal ini memicu rasa frustrasi masyarakat yang selama ini sudah berulang kali menyuarakan keluhan mereka.
“Jembatan ini memang sudah sangat memprihatinkan. Kami sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan kepada pemerintah, tapi hasilnya selalu samatambahan, hanya ditinjau, difoto, lalu dijanjikan akan ditindaklanjuti,” ujar Rudiansyah, warga RT 06 Desa Sebakung.
Ia menambahkan, kondisi ini membuat warga merasa diabaikan, sementara mereka tetap dituntut taat kepada pemerintah, termasuk membayar pajak.
“Apa harus menunggu ada korban dulu baru diperhatikan?” cetusnya.
Permintaan perbaikan jembatan juga sempat mendapatkan perhatian media. Belum lama ini, media Rakyat Kaltim melaporkan kondisi jembatan yang memprihatinkan, dan anggota Komisi III DPRD Kabupaten Paser, Andi Muhammad Rizal Assegaf, meninjau lokasi. Dalam kunjungan tersebut, ia berjanji akan menindaklanjuti perbaikan jembatan. Namun, janji itu belum terealisasi hingga hujan deras yang menyebabkan kerusakan parah.
Selain persoalan fisik, warga juga menyoroti lemahnya respons pemerintah terhadap keluhan masyarakat. Menurut mereka, kunjungan pejabat dan legislator selama ini hanya bersifat formalitas, tanpa langkah konkret yang mampu mencegah terjadinya risiko bagi warga.
Kondisi jembatan Desa Sebakung saat ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi pengguna jalan yang mengandalkan infrastruktur tersebut untuk aktivitas sehari-hari, termasuk transportasi ekonomi dan pendidikan. Apabila perbaikan tidak segera dilakukan, risiko kecelakaan dan terputusnya akses antar-desa akan terus meningkat, terutama saat musim hujan dan banjir.
Warga berharap pemerintah Kabupaten Paser segera mengambil langkah nyata. Tidak hanya untuk perbaikan jembatan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan masyarakat.
“Kami sudah lelah menunggu janji. Sekarang bukan waktunya lagi hanya meninjau, tapi harus ada aksi nyata,” tegas Rudiansyah.
Insiden ini menjadi peringatan bagi pemerintah setempat tentang pentingnya perhatian terhadap infrastruktur vital. Kerusakan yang berkepanjangan, apalagi di jalur penghubung desa-desa, bukan hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga memunculkan risiko sosial dan ekonomi yang lebih besar.(userun)