Puluhan Tahun Tanpa Listrik, Warga Desa Sebakung Desak Perhatian Serius Pemkab Paser
RAKYATKALTIM.WEB.ID, PASER – Keprihatinan terhadap kondisi pembangunan di Desa Sebakung, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, dinilai sangat wajar. Hingga kini, sejumlah wilayah di desa tersebut masih belum menikmati layanan dasar seperti listrik dan infrastruktur jalan yang memadai. Padahal, berbagai program pemerintah pusat maupun daerah kerap digaungkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok.
Selama puluhan tahun, warga Desa Sebakung mengaku belum sepenuhnya merasakan dampak nyata dari program pembangunan. Listrik yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat modern belum menjangkau seluruh wilayah desa. Beberapa Rukun Tetangga (RT) bahkan masih hidup tanpa aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Kondisi tersebut tentu berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Aktivitas rumah tangga, pendidikan anak-anak, hingga kegiatan ekonomi menjadi terbatas. Di era yang serba digital dan bergantung pada energi listrik, keterbatasan ini membuat masyarakat merasa tertinggal dibandingkan daerah lain.
Ketua RT 08 Desa Sebakung, Andi Adam, mengungkapkan bahwa aspirasi terkait kebutuhan listrik dan perbaikan jalan sebenarnya telah lama disampaikan kepada pemerintah. Berbagai jalur formal telah ditempuh, mulai dari musyawarah desa, pengajuan dalam forum perencanaan pembangunan, penyampaian aspirasi melalui DPRD, hingga permohonan langsung kepada pemerintah kabupaten.
“Sudah bukan sekali dua kali kami mengusulkan. Hampir setiap kesempatan musyawarah dan pertemuan, persoalan listrik dan jalan selalu kami sampaikan. Namun sampai sekarang belum ada realisasi yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.Sabtu (28/2/26)
Menurutnya, ketiadaan listrik menjadi persoalan paling mendesak. Beberapa warga memang menggunakan genset sebagai alternatif, namun hal tersebut hanya solusi sementara. Biaya bahan bakar yang tinggi serta kapasitas daya yang terbatas membuat penggunaan genset tidak efisien dan tidak mampu menunjang kebutuhan listrik secara optimal.
“Tidak semua warga mampu membeli genset. Kalaupun ada, biaya operasionalnya cukup besar. Itu pun hanya bisa digunakan pada jam-jam tertentu,” tambahnya.
Selain persoalan listrik, infrastruktur jalan di sejumlah wilayah Desa Sebakung juga masih memprihatinkan. Jalan utama maupun akses antar-RT belum tersentuh aspal atau pengecoran. Saat musim kemarau, jalanan berdebu dan bergelombang. Sementara ketika hujan turun, kondisi berubah menjadi berlumpur dan sulit dilalui kendaraan.
Situasi ini tidak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga berdampak pada sektor pendidikan dan perekonomian. Anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah harus melewati jalan rusak dengan penuh perjuangan. Begitu pula warga yang beraktivitas ke kebun atau ke pasar.
Sebagian besar masyarakat Desa Sebakung menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Hasil panen seperti padi, sayur-mayur, maupun komoditas lainnya harus dibawa keluar desa untuk dipasarkan. Namun, ketika hujan turun dan jalan menjadi sulit dilalui, distribusi hasil pertanian otomatis terhambat.
Akibatnya, warga kerap terpaksa menunda pengiriman hasil panen hingga kondisi cuaca membaik. Hal ini tentu memengaruhi kualitas dan harga jual produk pertanian mereka. Tidak jarang, hasil panen mengalami penurunan nilai akibat keterlambatan distribusi.
Warga menilai, dengan adanya berbagai program pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat, seharusnya tidak ada lagi daerah yang kesulitan mendapatkan layanan dasar seperti listrik. Mereka berharap pemerintah daerah dapat lebih proaktif dan memprioritaskan wilayah yang memang membutuhkan perhatian serius.
Menurut sejumlah tokoh masyarakat setempat, pembangunan infrastruktur dasar bukan sekadar soal fasilitas, melainkan menyangkut peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Listrik akan membuka peluang usaha baru, mendukung kegiatan belajar anak-anak pada malam hari, serta meningkatkan akses terhadap informasi dan teknologi.
Begitu pula dengan perbaikan jalan, yang akan memperlancar distribusi hasil pertanian dan mempercepat mobilitas warga. Dengan akses yang baik, potensi ekonomi desa diyakini dapat berkembang lebih optimal.
Masyarakat Desa Sebakung berharap ada langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Paser untuk merealisasikan kebutuhan tersebut. Mereka menginginkan perhatian yang tidak hanya sebatas janji, melainkan diwujudkan dalam program dan pembangunan nyata.
“Kami tidak menuntut berlebihan. Kami hanya ingin merasakan apa yang seharusnya menjadi hak masyarakat, yaitu listrik dan jalan yang layak,” tegas Andi Adam.
Harapan warga kini tertuju pada komitmen pemerintah daerah untuk benar-benar menghadirkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa. Dengan adanya perhatian dan realisasi program yang tepat sasaran, masyarakat Desa Sebakung optimistis dapat mengejar ketertinggalan dan meningkatkan kesejahteraan di masa mendatang. (yrs)