Ribuan Investor Baru Pasar Modal Bermunculan di Kaltim, Transaksi Saham Tembus Rp7,6 Triliun
Minat masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap investasi pasar modal terus menunjukkan tren positif.
Dalam kurun waktu Januari hingga April 2025, tercatat sebanyak 8.729 investor baru atau Single Investor Identification (SID) muncul dari wilayah ini.
Angka tersebut mencakup investor saham, reksa dana, obligasi, dan instrumen pasar modal lainnya.
Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Wilayah Kaltimtara Bursa Efek Indonesia (BEI), Ferdinan Sihombing, pada Selasa (3/6/2025).
Lebih lanjut, Ferdinan menjelaskan bahwa pada bulan April 2025 saja, nilai transaksi saham di Kaltim mencapai Rp1.629,46 miliar dengan volume transaksi sebesar 2.601,16 juta lembar saham.

Sementara itu, total akumulasi nilai transaksi dari Januari hingga April 2025 tercatat sebesar Rp7.629,63 miliar, dengan volume transaksi mencapai 14.179 juta saham.
“Jumlah investor pasar modal di Kaltim tetap bertumbuh walaupun tidak signifikan di tengah beberapa tantangan ekonomi domestik maupun global saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa secara nasional, jumlah investor saham di Indonesia telah menembus angka 7 juta, yakni 7.001.268 SID hingga Mei 2025.
“Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme positif terhadap prospek perekonomian Indonesia. Sehingga membuat minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal dalam negeri masih tetap tinggi, meskipun di tengah dinamika ekonomi global,” jelas Jeffrey.
Ia merinci, pada akhir Desember 2024, jumlah investor saham nasional tercatat sebanyak 6.381.444 SID.
Jumlah tersebut terus bertambah, dan hingga 26 Mei 2025, sudah terjadi penambahan 619.824 investor baru.
“Pertumbuhan ini terjadi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami perubahan dari 7.079,905 pada penutupan perdagangan akhir tahun 2024, menjadi 5.967,988 pada 9 April 2025, yang kemudian kembali menguat ke posisi 7.175,819 per 28 Mei 2025,” bebernya.
Jeffrey juga menyoroti dampak kebijakan ekonomi global, terutama tarif impor Amerika Serikat, yang berpengaruh pada dinamika pasar.
Namun, hal ini ternyata tidak menyurutkan minat masyarakat terhadap investasi.
“Menariknya, meskipun kebijakan tarif impor mulai diberlakukan, minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia tetap tinggi. Tercermin dari penambahan lebih dari 38 ribu investor saham selama periode 27 Maret hingga 8 April 2025,” pungkasnya. (*)