Sebagian Besar RT di Desa Sebakung Belum Teraliri Listrik, Warga Terpaksa Andalkan Genset. Harapkan Realisasi Segera.
RAKYATKALTIM.WEB.ID, Paser, – Harapan warga Desa Sebakung, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, untuk menikmati aliran listrik secara merata hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Dari total 10 Rukun Tetangga (RT) yang ada, baru tiga RT yang telah terpasang jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sementara tujuh RT lainnya masih belum tersentuh layanan listrik negara.
Tidak hanya di wilayah permukiman, jalur poros Desa Sebakung menuju Desa Muara Adang juga disebut belum sepenuhnya teraliri listrik. Kondisi ini membuat aktivitas warga pada malam hari menjadi terbatas dan menghambat berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sebakung, Asbin, mengatakan bahwa upaya pengajuan pemasangan listrik telah berulang kali dilakukan. Usulan tersebut disampaikan melalui berbagai forum resmi, termasuk musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), serta melalui aspirasi kepada DPRD Kabupaten Paser dan DPRD Provinsi.
“Sudah berkali-kali kami sampaikan dalam rapat dan pertemuan pemerintah. Bahkan secara langsung juga sudah kami komunikasikan dengan pihak terkait, termasuk PLN setempat. Namun sampai sekarang belum ada realisasi,” ujar Asbin saat ditemui Selasa (17/2/2026).
Menurutnya, secara geografis tidak ada kendala berarti untuk merealisasikan pemasangan jaringan listrik. Jarak Desa Sebakung dari ibu kota Kecamatan Long Kali hanya sekitar 7 kilometer. Dengan jarak yang relatif dekat tersebut, ia menilai akses infrastruktur semestinya memungkinkan untuk segera ditindaklanjuti.
Asbin juga menyinggung komitmen pemerintah pusat dalam pemerataan akses listrik hingga ke pelosok desa. Ia berharap pemerintah daerah dapat sejalan dengan kebijakan nasional tersebut. Terlebih, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi desa atau wilayah yang belum menikmati akses listrik.
“Kami berharap pemerintah daerah memahami dan menindaklanjuti arahan tersebut. Masyarakat di sini juga berhak mendapatkan pelayanan dasar seperti listrik,” tambahnya.
Selama belum teraliri listrik PLN, warga terpaksa menggunakan mesin genset untuk kebutuhan penerangan dan peralatan elektronik sederhana. Namun, biaya operasional genset dinilai cukup memberatkan. Untuk satu jam pemakaian, warga harus mengeluarkan biaya bahan bakar minyak (BBM) sekitar Rp15.000 per liter.
“Kami harus beli BBM setiap hari kalau ingin menyalakan genset. Itu pun tidak bisa lama karena biayanya cukup tinggi,” keluh salah satu warga.
Sebagian warga lainnya mencoba alternatif dengan memanfaatkan tenaga surya menggunakan peralatan rakitan seadanya. Meski membantu, kapasitas listrik yang dihasilkan terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga secara optimal.
Hal senada disampaikan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Sebakung, Agusman. Ia menegaskan bahwa pihaknya selama ini terus mendorong percepatan pemasangan listrik melalui berbagai jalur komunikasi resmi.
“Kami sudah menyurati pemerintah kabupaten dan melakukan pertemuan langsung. Sebagai BPD, kami menyerap aspirasi masyarakat dan terus memperjuangkannya,” ujarnya.
Menurut Agusman, listrik merupakan kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada pendidikan, ekonomi, hingga keamanan lingkungan. Tanpa penerangan yang memadai, aktivitas belajar anak-anak pada malam hari menjadi terbatas. Pelaku usaha kecil pun kesulitan mengembangkan usaha karena keterbatasan energi listrik.
Selain persoalan listrik, warga Desa Sebakung juga mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan yang belum memadai. Sebagian ruas jalan desa hingga kini belum diaspal maupun disemenisasi. Saat musim hujan tiba, jalan berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga menyulitkan mobilitas warga.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas harian, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok masyarakat. Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap dua persoalan mendasar ini, yakni akses listrik dan perbaikan jalan.
Masyarakat Desa Sebakung berharap adanya langkah konkret dan percepatan realisasi pembangunan agar mereka dapat merasakan pemerataan pembangunan sebagaimana daerah lainnya di Kabupaten Paser. Dengan tersedianya listrik dan infrastruktur jalan yang layak, warga optimistis kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi desa dapat meningkat secara signifikan.(yusran)